Kemarin saya buka-bukaan tentang berapa kisaran modal awal membuka usaha #martabakalitrupi2 dan berapa keuntungannya, juga menghitung BEP (Break even Point) balik modal-nya. Dan setelah hitung sana-hitung sini terlihatlah keuntungan sebesar Rp120.000,- /hari jika dan jika omsetnya bisa mencapai 2 kg per hari. Jika dan jika jualannya habis semuanya, tanpa ada sisa. Bagaimana kalau omsetnya lebih dari 2 kg perhari? Berarti bisa dong di besarkan lagi keuntungannya dengan memperbesar omset-nya? Sebagai informasi, pada bulan pertama saya bisa memaksimal omset 6-8 kg per hari. Sampai-sampai teman2 ukm ada yang menyebut saya 'GILA Lo' , bayangin aja, saya membuat gebrakan 'FREE ONGKIR' sampai ke Cikampek yang hanya mengantarkan 1 paket saja senilai Rp20.000,- dan di antar sendiri. Sekarang anda tahu kenapa? Betul sekali yang saya kejar adalah memperbesar omset, omset minimal bisa 5 kilo saja sudah Rp600.000,- per hari keuntungannya. Ongkos kirim sudah terbayarkan. ENAK LOH DAN MEMBUAT KETAGIHAN.
BESAR kan keuntungannya? Tetapi .... AWAS HATI-HATI dengan keuntungan usaha anda.
Kenapa harus hati-hati, ingat dalam artikel itu juga saya menambahkan catatan tentang keuntungan ini belum termasuk biaya lain-lain. Itu adalah keuntungan kotor belum termasuk biaya tenaga kerja (walau dikerjain sendiri - siapa tahu nanti ngambil karyawan), gas, untuk pengembangan usaha, keperluan lainnya. Karena saya baru di usaha ini, jadi saya hanya sebut biaya lain-lain... hehe
Saya setuju sekali dan memang benar adanya dengan komentar Teh Afril Lavanda yang punya Lavanda Brownies :
"Kalo ngomongin BEP mungkin udah tercapai kang, tapi hati2... Itu gas, air, ongkos kerja, kemasan, penyusutan alat, blm masuk hitungan. Jadi 120rb/hari blm bersih keuntungan kita
:D "
"Kalo ngomongin BEP mungkin udah tercapai kang, tapi hati2... Itu gas, air, ongkos kerja, kemasan, penyusutan alat, blm masuk hitungan. Jadi 120rb/hari blm bersih keuntungan kita
Tetapi kenapa harus ada penyusutan alat? Soalnya yang saya tahu dulu di bagian akunting ada biaya penyusutan alat, dan biasanya terjadi jika harga alatnya yang mahal, sehingga perlu adanya biaya penyusutan alat, dalam kasus saya alatnya dah di bayarkan lagi
:(
Ternyata maksudnya Teh @afril lavanda adalah :
"Kalo kompor rusak, cetakan rusak, buat beli gantinya uang dari mana? Hihi...
Ya itu mah memang lebih kompleks sih.. Cuma idealnya harus ada dana penyusutan alat, karena kondisi peralatan akan rusak suatu hari nanti."
"Kalo kompor rusak, cetakan rusak, buat beli gantinya uang dari mana? Hihi...
Ya itu mah memang lebih kompleks sih.. Cuma idealnya harus ada dana penyusutan alat, karena kondisi peralatan akan rusak suatu hari nanti."
Oh ya ya, saya mengerti. Sebagai pelaku usaha rumah tangga biasanya dan hampir sebagian besar tidak pernah memikirkan hal itu, kan duitnya juga bercampur sama duit dapur bagaimana mengaturnya. Itu belum kebiasan kita kalau punya simpanan banyak timbulah sifat konsumtif kita, ingin beli ini-itu, buat DP mobil/motor bukan untuk usaha atau lainnya dan lain-lain lagi. Ya gak?
KASUS! Pernah enggak ngalamin saat punya uang kita beli bahan2 sekaligus misalnya 1 bal tepung terigu 25 kg, padahal butuhnya hanya 5 kg perhari...kebeli tuh... tetapi setelah terigu 1 bal habis, secara logika duitnya mestinya bisa beli lagi yang 1 bal=25 kg ternyata duitnya ga cukup... cukupnya untuk beli 5 kg saja... kejadian curhat tukang gorengan yang jadi galau akhirnya ga mampu beli yang 25 kg lagi... pernah ngalamin.
Saya pernah ngalamin waktu awal beli "Meses Coklat" yang 12,5 kg sebesar Rp 350.000,- ... santai kan ga perlu beli tiap hari, setelah beberapa hari stok habis, dan ternyata simpanan uangnya tidak cukup untuk beli 12,5 kg lagi...hihihi. Akhirnya saya paksakan bisa beli lagi, dengan mengurangi beli bahan yang lain, dan solusinya semenjak itu setiap hari memakai 1 kg di simpan deh 'uang coklat' senilai satu kilonya. Jadi coklat habis uang sudah terkumpul...
:D, Bisa beli lagi deh.
Apa hanya itu saja? Dalam prakteknya saya juga menyimpan Rp10.000,- saja uang untuk beli gas + air mineral (sekarang nambah Rp10.000,- untuk keperluan listrik dan pulsa
:) ). Mulai menyimpan pada saat bulan kedua. Satu lagi setiap hari, di akhir hari itu saya selalu memisahkan 5% dari omset hari itu untuk keperluan akhir tahun, zakat harta dan biaya lainnya. Mudah-mudahan bisa komitmen dan konsisten seperti ini. Alhamdulillah setelah 3 bulan ini lancar saja.
Sebenarrnya apa yang saya jelaskan di sini adalah yang sering di sebut :
"Managemen Keuangan Sederhana" yang baru saja di tulis artikelnya oleh Kang Andrean Leehttps://web.facebook.com/groups/866774013411821/permalink/987006954721859/ .
Dan saya menyebutnya managemen keuangan emakku, soalnya saya pertama tahu cara ini dari emakku yang selalu menyimpan uang dalam beberapa tempat saat sore hari, saat warungnya tutup. Ternyata setelah di tanyakan .... yang ini untuk bayar arisan , yang ini untuk bayar angsuran dagangan ke si anu (biasanya kan suka dikasih ngutang dulu), yang ini untuk bayar listrik... hmmm pantas saja orangtuaku selalu bisa membayar arisan, utang dagang tepat waktu dan tidak pernah beralasan uangnya belum ada. Dan sekarang saya juga praktekkan seperti itu... maklum saya kan baru sebatas pengusaha rumah tangga. Yang terpenting Usaha lancar , simpanan terus bertambah, dapur bisa ngebul... UTANG TIDAK ADA DAN TIDAK AKAN PERNAH ADA RENCANA SEDIKITPUN AMBIL PINJAMAN MODAL. JAUHI KREDITAN BAYAR TUNAI AJA DEH. Aamiin.
Ingat apa yang saya tulis ini adalah pengalaman sendiri dan untuk sendiri, sebagai pengusaha rumah tangga pemula yang belum punya karyawan, belum mampu sewa tempat usaha, belum berpikir pengembangan usaha kedepan dan intinya belum punya pengalaman. Yang baru melangkah 3 bulan di usaha kuliner, melangkah dari titik nol , apa di bawah nol ya
:) .
Ok. Celotehannya sampai di sini dulu...
Nanti di sambung dengan topik lainnya...
Nanti di sambung dengan topik lainnya...
Tetap semangat untuk terus menjadi wirausaha handal, kreatif dan inovatif.
Kalau ini bermanfaat atau ada saran dan kritikan like n komentar ya...
Kalau mau pesan martabak alit sini ya...
Foto artistik oleh teh Ivy Fauzie





